MENYOAL: GERAKAN INDONESIA GEMAR MENGHAFAL (Metode Thaif Metode menghafal Alquran dari Kerajaan Arab Saudi)

Keutamaan seorang penghafal Al Qur’an begitu banyak di sisi Allah. Layaknya sebuah rembulan, ia nampak begitu elok dan terang benderang dibandingkan sekumpulan bintang di kegelapan malam. Ia menjadi manusia pilihan yang memiliki keutamaan-keutamaan khusus di sisi Sang Penciptanya. Al Qur’an akan mendatanginya dan menjadi syafaat baginya sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, “bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi shahibul Qur’an” (HR. Muslim)

Ia pun akan diangkat derajatnya sebagaimana pula sabda Rasulullaah Shallallahu alaihi wassalam, “Sesungguhnya Allah mengangkat beberapa kaum dengan Al Qur’an ini dan menghinakan yang lain dengannya” (HR. Muslim).

Bahkan, seorang penghafal Al Qur’an akan memiliki derajat yang tinggi di Surga kelak, “Akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat) : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca” (HR. Abu Daud).

Selain itu, ia lebih berhak di antara manusia-manusia lainnya untuk menjadi imam. “Hendaknya yang mengimami sebuah kaum,” kata Rasulullaah Shallallahu alaihi wassalam “adalah yang paling aqra’ terhadap kitabullah” (HR. Abu Daud)

Menjadi seorang penghafal Al Qur’an tidaklah menuntut bahwa seseorang harus berasal dari perguruan tinggi Islam  dan mengambil jurusan yang berkaitan dengan ilmu agama Islam. Namun, semua orang berhak menjadi penghafal Al Qur’an, baik orang tersebut kuliah di perguruan tinggi Islam atau selainnya. Bahkan dalam skala umum, pekerjaan bukanlah batasan untuk menjadi seorang penghafal Al Qur’an. Guru mengaji, guru mata pelajaran umum, dokter, direktur pertamina, dukun beranak, supir taksi, buruh bangunan, tukang becak, bahkan penjual tahu isi pun semuanya memiliki kesempatan untuk menjadi seorang penghafal Al Qur’an. Maka, yang dibutuhkan ialah niat serta konsistensi yang mantap apabila benar-benar ingin memulainya.

Ada berbagai macam metode yang dapat dilakukan dalam menhafal Al Qur’an. Satu di antara metode tersebut ialah metode Thaif dari Kerajaan Arab Saudi. Metode ini terbilang unik, khas, dan juga efektif serta efisien. Berikut metode Thaif tersebut:

  1. Mulai segala sesuatunya dengan niat yang ikhlas mengharap ridha Allah sepenuhnya.
  2. Mengahadap ke dinding atau pembatas pandangan lainnya yang berlatar polos. Hal ini dimaksudkan agar kita fokus untuk menghafal.
  3. Tinggalkan segala sesuatu yang menghalangi atau menganggu kita dalam proses menghafal Al Qur’an. Gangguan tersebut misalnya gadget, surat kabar, siaran TV, dan lainnya.
  4. Menganggap diri bahwa dalam keadaan seperti itulah kita akan membaca Al Qur’an di hadapan Allah di Hari Akhir kelak.
  5. Berdoa untuk dimudahkan oleh Allah dan membaca رب زدني علما
  6. Memperhatikan dan membaca dengan seksama ayat pertama yang ingin kita hafal. Dengan sebenar-benarnya memperhatikan, baik dari segi maknanya, hukum bacaannya, tata letaknya, dsb. Silakan dibaca 3 kali seperti keadaan tersebut. Kemudian angkat kepala, tutup mata atau hadapkan kepala ke dinding polos tadi, baca dengan hafalan, kalau sudah bisa tanpa kesalahan, maka lanjutkan ke ayat yang kedua, seperti ayat yang pertama dibaca 3 kali dengan penuh perhatian, kemudian kembali mengangkat kepala ( tidak Melihat Mushaf) dan membacanya dengan hafalan, jika berhasil tanpa ada kesalahan, sambunglah ayat pertama dan ayat kedua yang telah dihafalkan tanpa melihat mushaf (atau baca dahulu ayat satu dan dua ) kemudian baca dengan hafalan.

Lanjut ke ayat ke 3 dibaca 3 kali dst, seperti cara sebelumnya, jika ayat tiga telah mampu dibaca dengan hafalan maka selanjutnya sambung ayat 1,2,3 tanpa melihat mushaf. Dan begitu seterusnya sampai semua ayat dalam satu halaman terhafal dengan baik. (atau setengah halaman jika mendapat kesulitan).

  1. Untuk ayat yang panjang( 2 baris atau lebih) maka cukup dipotong-potong beberapa bagian pada tempat yang pas dari segi maknanya ( tempat yang dibolehkan untuk berhenti), dan perlakukanlah setiap potongan itu sebagai satu ayat  kemudian hafalkan dengan cara sebelumnya.

Antara orang yang satu dengan lainnya berbeda-beda kemampuan mereka dalam menghafalkan Al Qur’an. Ada yang bisa dengan 30 menit, ada yang kurang dari itu, namun juga ada yang membutuhkan waktu tambahan untuk menghafal satu halaman Al Qur’an. Namun, hal tersebut bukanlah menjadi hambatan, keresahan, apatah lagi kegalauan hati bagi orang yang telah berniat mewakafkan diri sebagai penghafal Al Qur’an. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan behasil. Barangsiapa yang berjalan pada lintasannya maka ia akan sampai pada tujuannya. Dan barang siapa yang bersabar maka keberuntungan niscaya menaunginya, insya Allah.

Ada hal-hal yang mesti diperhatiakan dalam menerapkan metode ini. berikut ini merupakan catatan tambahan untuk tips sukses menghafal Metode Thaif:

  1. Al Qur’an jangan pernah diganti-ganti atau paling tidak, kita harus konsisten menggunakan mushaf yang sama di mana pun kita hendak menghafal atau memuroja’ahnya.. Silakan beli mushaf Al Qur’an yang sama, taruh di kamar satu, di tas satu, di kendaraan satu, di masjid satu, dan di tempat-tempat yang menjadi kebiasaan kita membaca Al Qur’an.
  2. Harus segera disetor. Kita harus mencari orang yang kita anggap fasih dalam membaca Al Qur’an beserta hukum-hukum bacaanya. Bahkan kalau perlu orang yang sudah hafidz 30 juz dan telah mendapatkan sanad hafalan. Silakan bawa pensil, kemudian sampaikan kepada orang yang kita tempati umtuk menyetor agar menggarisbawahi ayat yang salah ketika kita membacanya. Tujuannya ialah agar kita semakin mengingat letak kesalahan kita dalam menghafal sehingga tidak mengulangnya lagi.
  3. Mencari suasana, waktu, dan tempat yang pas untuk menghafal Al Qur’an. Tentu berbeda ketika kita menghafal dalam keadaan tenang pada waktu sepertiga malam, setelah salat subuh, atau salat magrib di masjid pula daripada kita menghafal pada saat hati sedang gunda gulana galau gelisa pada waktu teriknya siang di dalam pasar pula. Intinya, silakan cari suasana, waktu, dan tempat yang nyaman menurut kita untuk menghafal Al Qur’an. Ada baiknya juga kita ke tempat menghafal Al Qur’an (Tahfidzul Qur’an) terdekat. Hal ini bertujuan untuk memacu semangat dan adrenalin kita karena kita punya teman menghafal sekaligus saingan dalam menyetor hafalan.
  4. Ada tim pengawas dengan membuat kelompok menghafal. Maksudnya supaya ada yang mengontrol sehingga pada waktu yang seharusnya kita menghafal tidak kita gunakan untuk bercerita dengan tema tanpa makna.
  5. Suara harus keluar (minimal sampai terdengar oleh telinga kita sendiri). Hal ini bertujuan agar kita juga menggunakan kemampuan audio (pendengaran) sehingga proses menghafal menjadi lebih maksimal bukan semata-mata menjadikan kemampuan visual (penglihatan) sebagai senjata dalam mengahafal.
  6. Siapkan 30 menit dalam sehari untuk konsentrasi menghafal hafalan baru dan waktu selebihnya dalam hari itu untuk mengulang-ulang hafalan baru kita, baik diatas kendaraan, ditempat antrian, atau sementara menunggu mobil dan lainnya (memanfaatkan waktu yang ada)yang intinya menjadi zikir kita hari itu.

Selain itu, agar hafalan yang telah dihafal lekat di hati dan kepala, maka seorang penghafal Alquran harus terus mengulangi (Memuroja’ah) hafalannya. Berikut ini merupakan tips memuroja’ah hafalan tersebut:

  1. Bagilah dua waktu dalam sehari. Satu waktu untuk menghafal, satu waktu untuk memuroja’ah. Semisal pada waktu subuh setelah salat kita menghafal sedangkan muroja’ahnya setelah habis salat magrib. Silakan cari waktu yang nyaman dan sesuai dengan aktivitas kita karena tidak setiap orang memiliki jadwal penggunaan waktu yang sama dalam 24 jam. Ingat, kita harus konsisten dengan 2 waktu yang telah kita pilih!
  2. Bagilah jumlah hafalan kita dengan 6 hari (1 hari libur). Semisal, kita sudah punya hafalan 6 juz maka kita bagi 6 hari menjadi 1 juz 1 hari dalam memuroja’ah hafalan. Begitupun bila ketika kita telah menghafal 30 juz maka bagi menjadi 6 hari menjadi 5 juz 1 hari dalam memuroja’ah hafalan. Ini dilakukan selama 3 tahun pertama bagi yang telah hafidz 30 juz. Setelah 3 tahun memuroja’ah hafalan seperti itu, maka cukup memuroja’ah 1juz 1 hari di bilangan-bilangan hari di depannya. Apabila benar-benar tak sanggup memuroja’ah hafalan dalam sehari, maka minimal dibaca saja.
  1. Satu hari digunakan untuk refreshing atau rihlah seperti mendaki gunung, hadir di majelis taklim, berlatih memanah, berlatih belah diri, berenang di laut, main bola, atau pergi ke tempat-tempat tertentu dan melakukan hal yang menjadi kesenangan kita tanpa melanggar syariat dan mengatarkan kepada perbuatan yang sia-sia. Hal ini bertujuan agar hati dan pikiran tidak terbebani secara berlebihan dengan aktivitas yang majemuk, jenuh, dan terkadangan membuat kita stres berlebihan.
  2. Menjauhi perbuatan dosa dan maksiat karena ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.
  3. Banyak beristighfar mohon ampun kepada Allah.

Selalulah yakin dan berprasangka baik kepada Allah. Kesabaran dan keihlasan adalah dua hal yang harus kita jadikan kekasih hati apabilah benar-benar hendak menjadi seorang penghafal Al Qur’an. Karena suatu masa akan ada rasa jenuh dan malas yang akan menghampiri. Namun, apabila ikhlas, sabar, dan prasangka baik itu kita pertahankan maka rasa jenuh dan sifat malas itu akan perlahan luntur dan lenyap hilang tanpa jejak, insya Allah.

“Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari, maka payah melaluinya, panjang perjalanannya, dan banyak rintangannya” (Imam Ghazali).

Allaahu A’lam. ( Oleh Murdani Tulqadri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s