REFERENSI HIDUP: ANTARA PEMUDA, SEJARAH, DAN BUDAYA LITERASI

“Bukanlah disebut pemuda

Ia yang berkata inilah ayahku

Tetapi adalah pemuda

Ia yang berkata, inilah diriku”

(‘Ali bin Abi Thalib, ra)

Sejenak, marilah kita tinggalkan panggung politik dan segala kekisruannya. Sebuah panggung yang selalu saja menghembuskan perbedaan pendapat dan membuat keujujuran seakan sulit diungkapkan. Panggung yang sebagian orang mengatakan bahwa tak ada teman sejati dan musuh sejati dalam panggung tersebut, yang ada hanya sebuah pertalian karena berisi ikatan kepentingan. Panggung sandiwara yang sebagian rakyat menaruh harapan di hati dan lidah mereka sebagai pemain di panggung politik tersebut. Takkah pernah terlintas di pikiran kita mengenai kondisi pemuda saat ini yang seakan hilang dari kamus kehidupan karena sapuan banjir serta harus deras aliran politik? Lalu, mengapa kita harus mencurahkan sebagian perhatian kita kepada pemuda dalam kondisi saat ini (selain politik dan segala kekisruannya)?

Sebuah anugerah dan nikmat yang besar apabila seorang manusia mampu melewati masa kanak-kanaknya menuju masa muda. Masa muda adalah sebuah masa emas bagi manusia untuk menentukan cita dan membulatkan tekad untuk menggapainya. Sejuta mimpi boleh jadi telah terpampang di depan mata. Masa muda pula adalah berpadunya fisik yang kuat, mental yang perkasa, serta semangat yang membara untuk menggapai cita dan mimpi itu. Itulah sosok muda ideal yang begitu dirindukan bangsa ini. Namun, bagaimanakah dengan kondisi realitas pemuda saat ini?

Pemuda, Riwayatmu Kini

Komnas Pendidikan Anak menyatakan sebanyak 62,7 persen remaja di Indonesia pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Sementara data dari BKKBN menyatakan sebanyak 51 persen remaja pernah melakukan seks bebas (jpnn.com). Selain itu, pengguna narkoba pada masa remaja yang berusia 12-21 tahun pada tahun 2013 ditaksir sekitar 14.000 orang dari jumlah remaja di Indonesia sekitar 70 juta orang (kompas.com). Menurut data dari BNN dari tahun 2003 sampai 2010 terjadi kenaikan transaksi narkoba sebanyak 300 persen. Permasalahan ini belum termasuk tawuran antarpelajar, pembunuhan, dan kasus negatif lainnya pada kalangan pemuda.

Beranjak dari data di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kondisi realitas pemuda jatuh begitu terpaut jauh dari apa yang diharapkan. Pemuda sebagai pionir-pionir penggerak, komunitas ide dan sarang kreatifitas segar, serta sebuah masa depan cerah bagi bangsa agaknya masih tertunda saat ini. Tentu kita dengan tegar harus mengakui bahwa ada masalah yang besar sedang terjadi pada kaum pemuda ini.

Sekumpulan masalah pemuda tersebut tentu didalangi oleh beberapa penyebab penentu. Dako (2012, kenakalan remaja) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ada empat hal yang bisa menyebabkan sehingga anak menjadi/cenderung nakal, yaitu: pertama, karena kurangnya pengawasan orang tua (keluarga) dalam mendidik dan mengawasi perkembangan anak; kedua, teman bermain; ketiga, lingkungan sekolah/masyarakat; dan terakhir media massa.

Media massa adalah salah satu dari penyebab penentu tersebut. Media massa baik berupa media cetak maupun media elektronik sejatinya merupakan media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai cita-cita negara ini. Namun, cita-cita itu tidak sepenuhnya terselenggara dalam kondisi realitas yang ada. Media seakan-akan sebagai nabi-nabi baru yang menentukan dan memfatwakan kepada para khalayak penikmat utamanya para pemuda tentang mana yang benar dan yang salah. Tentu hal itu akan menjadi baik dan positif, apabila apa yang memang disampaikan dan paparkan kepada masyarakat adalah sebuah kenyataan. Namun, apakah hal itu benar-benar terjadi saat ini?

Salah satu media elektronik sebagai penentu kebenaran bagi para pemuda itu adalah televisi (teve). Teve saat ini menjadi media kegemaran masyarakat yang susah dicari pesaingnya. Namun, tentu hal-hal yang berlebihan akan membawa dampak negatif bagi para pelakunya, tidak terkecuali dengan menonton teve secara berlebihan. Apalagi kalau yang ditampilkan hanya sekadar hiburan saja tanpa mengimbangi dengan informasi dan berita yang lebih bermanfaat dan membuat si penonton menjadi produktif untuk berkarya. Namun, apakah benar itu yang terjadi?

Rahayu (2009, Tayangan Hiburan TV & Penerimaan Budaya Pop) dalam penelitiannya menyatakan bahwa banyaknya stasiun TV lokal maupun nasional yang menempatkan porsi tayangan hiburan lebih dari 50% dari seluruh materi maupun jam tayang dengan segmen utama remaja. Tayangan hiburan mengandung muatan budaya pop jauh lebih besar ketimbang budaya lokal dan ini tidak mustahil dapat mempengaruhi kognisi, afeksi, maupun perilaku remaja. Pertanyaan selanjutnya ialah apa yang dimaksud dengan budaya pop? Bagaimana pula kaitannya dengan pemuda?

Sang Generasi Pembeo

Budaya pop adalah sesuatu yang diproduksi dengan sangat massif dan dipandang sebagai komoditi. Budaya pop adalah budaya yang disukai banyak orang, budaya massa yang komersial dan membodohi orang banyak (Budiman dalam Rahayu, 2009). Adapun ciri-ciri budaya massa atau budaya pop adalah: institusionalisasi tergantung pada media dan pasar; pengorganisasian dan produksi ditujukan untuk pasar massa dan memanfaatkan teknlogi secara terencana dan terorganisir; isinya dangkal, tidak bermakna ganda, menyenangkan, universal, tapi bisa punah; khalayaknya heterogen dan berorientasi konsumtif; efek yang dihasilkan berupa kesenangan seketika dan pengalihan perhatian. Akhirnya, wujud budaya pop berupa bahasa, busana, musik, tata cara, dan sebagainya walaupun tidak sesuai budaya, tuntunan agama, dan adat ketimuran akan ditiru habis-habisan oleh pemuda Indonesia. Pemuda saat ini seakan telah bertransformasi menjadi generasi pembeo budaya-budaya asing yang masuk begitu deras seiring dengan derasnya arus globalisasi.

Kenyataan tersebut menjadi referensi-referensi hidup negatif bagi para pemuda. Kenyataan yang menyakitkan dan menorehkan luka yang dalam hingga membuat kondisi realitas pemuda seperti tertera di awal tulisan ini, tentang seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan kasus pemuda yang memilukan lainnya. Kondisi pemuda adalah sebuah kondisi pencarian jati diri sebagai pelampiasan terhadap keingintahuan akan banyak hal. Namun, yang terjadi ialah begitu banyak pemuda yang melakukan pencarian jati diri namun tidak disertai dengan referensi pencarian yang benar. Segala apa yang ia lihat baik di media elektronik dan cetak serta lingkungannya kemudian ditiru dan ia aplikasikan dalam kehidupannya. Namun, peniruan itu dilakukan tanpa sebuah saringan dan pengontrolan yang baik akan yang benar dan salah. Maka terjadilah apa yang terjadi pada kehidupan pemuda, dewasa ini.

Sejarah Sebagai Referensi Hidup

Di sisi lain, tentu dibutuhkan referensi-referensi yang baik bagi para pemuda dalam menjalani kehidupannya. Pertanyaan yang timbul kemudian ialah apa dan bagaimana bentu referensi yang benar itu? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita membuka lembaran-lembaran sejarah. Bermula dari sejarah maka akan terkuak kebenaran-kebenaran yang dapat kita ambil hikmah dan aplikasikan dalam kehidupan saat ini, khususnya bagi para pemuda Indonesia.

Membuka sejarah itu seakan kita menarik anak panah, semakin kita menggali sejarah itu, semakin dalam pula anak panah itu tertarik ke dalam. Lalu, apa yang terjadi? Anak panah itu akan deras menghujam sasaran, begitu pula sejarah yang didalami, akan banyak hikmah yang akan terkuak. Membuka lembaran sejarah Indonesia, maka kita akan mendapatkan segudang referensi yang baik itu. Tarulah misalnya bagaimana para pemuda dengan mimpi kemerdekaan yang ada dibenaknya menghabiskan dan mengorbankan jiwa, harta, dan raganya untuk merealisasikan kemerdekaan itu.

Lembaran-lembaran sejarah Islam ada baiknya juga dibuka untuk mendapatkan referensi tersebut. Seorang pemuda bernama Usamah bin Zaid di usia 18 belas tahun telah menjadi panglima perang yang menyejarah bagi kaum muslimin. Iyas Alqadhi diumur 16 tahun telah menjadi seorang hakim yang cerdas. Adapula seorang pemuda bernama Sultan Muhammad Alfatih menjadi pemimpin perang menaklukkan Kota Konstantinopel yang terkenal dengan bentengnya yang sulit sekali untuk di tembus, dan banyak lagi pemuda dalam lembaran sejarah Islam yang begitu luar biasa serta hanya menjadi semacam dongeng ketika diceritakan.

Sejarah itu pula adalah kumpulan kisah yang penuh dengan pembelajaran. Bahkan Allah pun berfirman dalam Surah Yusuf ayat 11 yang berbunyi, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” Mereka adalah contoh-contoh pemuda yang nyata yang menjadikan hidupnya benar-benar berkualitas dan menyejarah. Mereka adalah orang-orang yang menaruh mimpinya dekat dengan tubuhnya seakan sebagai sebuah bayangan dan mengeluarkan usaha yang begitu maksimal untuk mewujudkan mimpi itu. Dan mereka bukanlah orang-orang yang menghabiskan banyak waktunya untuk menonton tanyangan tak berkualitas dan melakukan aktivitas nonproduktif lainnya. Mampukah kita belajar dari mereka serta menjadikan referensi hidup yang pasti?

Budaya Literasi Sebagai Proses Taaruf

Sekumpulan sejarah di atas hanya akan menjadi lembaran-lemabaran usang apabila tidak dikenali dan dikupas secara mendalam. Bukankah ada sebuah pepatah yang menyatakan bahwa tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Begitu pula sejarah itu, sayang dan cinta akan tumbuh kepadanya apabila ada proses taaruf yang mendahuluinya. Untuk mengenal dan mengambil hikmah di balik sejarah yang telah terjadi maka perlu ditumbuhkembangkan melalui budaya literasi dalam kehidupan pemuda. Budaya literasi seperti membaca, diskusi, dan menulis dengan tema sejarah dan tema-tema solutif lainnya arus terus digalakkan dikalangan pemuda. Ketika budaya literasi itu muncul, maka budaya pop sebagai cikal bekal generasi pembeo akan pudar bahkan terhapus dalam kamus kepemudaan. Perilaku-perilaku negatif lainnya juga akan semakin berkurang karena pemuda telah tahu bagaimana menghabiskan waktunya dalam kegiatan yang lebih bemanfaat dalam lingkungan literasi.

Pemuda, sejarah, dan budaya literasi adalah kata-kata kunci referensi yang baik itu. Andai kita (baca pemuda) mau belajar dari sejarah maka tak akan pernah kita jatuh dalam lubang yang sama. Andai kita berkaca dari cermin sejarah maka begitu banyak kebaikan yang akan kita tuai sebagai bekal hidup yang berkualitas. Dan pertanyaan terakhir itu ialah maukah kita terus belajar dari sejarah sebagai sebuah sumber yang memberikan semangat hidup dan pustaka yang benar dalam meneruskan dan mewujudkan cita dan mimpi yang indah itu? Ataukah kita tetap bersikap apatis dan masa bodoh akan kondisi realitas sehingga tetap menghabiskan waktu sekadar hanya menjadi penonton bagi kebobrokan di negeri kita, wahai para pemuda? Wallahu a’alam.

Penulis adalah owner Prasmanan Pak Dani, Mahasiswa UNM, dan seorang pemuda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s