PERANAN LINGKUNGAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA

I.            PENDAHULUAN

            Di dalam kehidupan bermasyarakat, manusia memiliki banyak sarana yang dapat digunakan untuk saling berkomunikasi. Namun, tampaknya hanyalah bahasa  yang merupakan alat komunikasi yang paling baik dan paling sempurna dibandingkan dengan alat komunikasi lainnya. Termasuk juga alat komunikasi yang digunakan oleh para hewan, bahasa yang digunakan manusia jauh lebih unggul (Chaer, 2010: 11). Oleh karena itu, bahasa benar-benar menjadi sebuah sarana yang digunakan sebagai alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya dimiliki manusia dengan begitu sempura dan hal itu patut untuk disyukuri.

            Di antara sifat bahasa ialah unik dan universal. Bersifat unik artinya setiap bahasa memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya. Sedangkan dikatakan bersifat universal artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri-ciri universal ini tentunya merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lainnya. Ciri yang paling umum ialah bahasa itu mempunyai bunyi yang terdiri dari huruf vokal dan konsonan (Chaer, 2012).

            Dua ciri di atas benar-benar disadari oleh manusia. Beranjak dari dua ciri tersebut, manusia kemudian sadar bahwa antara satu bangsa dengan bangsa lain memiliki bahasa-bahasa yang unik dan berbeda namun mempunyai suatu kesamaan. Tentu manusia juga sadar bahwa tidak akan bisa mengandalkan satu bahasa untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya yang berbeda bangsa. Oleh karena itu, manusia harus belajar cara untuk memeroleh bahasa lainnya agar dapat berkomunikasi dengan manusia yang berbeda latar belakang bangsanya. Hal ini merupakan tuntutan globalisasi.

            Banyak faktor yang dapat memengaruhi diri dalam pembelajaran bahasa begitu pun dengan bahasa kedua (B2), bahasa ketiga (B3), dan sebagainya. Motivasi, usia, dan strategi pembelajaran merupakan beberapa faktor yang bisa memengaruhi pembelajaran bahasa. Selain itu, masih ada faktor lain yang begitu mempengaruhi pembelajaran bahasa yang dilakukan oleh manusia. Faktor tersebut adalah faktor lingkungan yang dapat berperan penting dalam proses pembelajaran bahasa.

       II.            PERANAN LINGKUNGAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA

A.    Analisis Teori Bahasa dan Lingkungan     

            Nurhadi dan Roekhan (1990: 108) menyatakan bahwa problema pemerolehan bahasa itu sangat kompleks karena ditentukan adanya interaksi yang menyangkut aspek-aspek kematangan biologis, kognitif, dan sosial. Dua cara pemerolehan B2 bagi orang dewasa diajukan oleh Krasen (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990: 108) yaitu dengan jalan belajar langsung secara informal seperti anak kecil yang memelajari bahasa ibunya. Sedangkan yang kedua berlangsung secara formal dalam kelas dan menyangkut kaidah-kaidah tata bahasa. Cara yang pertama dinamakan ‘pemerolehan’ (acquisition) dan yang kedua dinamakan ‘belajar’ (learning).

            Sehubungan dengan itu, ada beberapa pandangan tentang pemerolehan bahasa secara alami. Pandangan-pandangan tersebut ialah pandangan nativisme, pandangan behavioristis, dan pandangan kognitif. Pandangan nativisme ialah bahasa tersebut diperoleh secara alami yang dikendalikan sendiri oleh anak (dalam diri anak). Pandangan behavioristis ialah bahasa itu diperoleh karena “disuapi” dan bahasa tersebut berasal dari luar (yaitu lingkungan sosial). Sedangkan pandangan kognitif adalah perkembangan kognitif harus tercapai lebih dahulu baru dapat mewujudkan keterampilan berbahasa (Akhadiah, dkk: 1997). Ketiga pandangan tersebut merupakan acuan dari para ahli dalam menetapkan pemerolehan bahasa.

            Khusus pada pandangan behavioristis dalam hal ini diwakili oleh B.F. Skinner. Mahmuda (2012: 72) menyatakan bahwa segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Hal ini juga termasuk memeroleh dan memelajari bahasa. Kridalaksana (2009: 32) menyebutkan bahwa behaviorisme adalah pendekatan kepada bahasa sebagai bagian prilaku manusia dalam situasi perangsang penanggap yang dapat diamati. Dapat disimpulkan bahwa lingkunganlah yang membentuk kemampuan berbahasa manusia lewat proses perangsang-penanggap yang terjadi (stimulus-respon) antara manusia dan lingkungan.

            Lebih dalam, paham behavioristis ini memandang bahwa kemampuan berbicara dan memahami bahasa diperoleh melalui rangsangan lingkungan. Anak hanya merupakan penerima pasif dari tekanan lingkungan. Anak tidak memiliki peran aktif dalam perilaku verbalnya. Perkembangan perilaku verba (yaitu bahasa) terutama ditentukan oleh lamanya latihan yang disodorkan oleh lingkungannya. Ini menjelaskan bahwa anak dapat berbahasa bukan karena penguasaan kaidah bahasa tetapi karena dibentuk oleh faktor dari luar dirinya secara langsung. Belajar bahasa dialami anak melalui prinsip pertalian stimulus-respon atau aksi-reaksi (Akhadiah, dkk: 2.4). Dari pernyataan teori behavioristis ini, dapat disimpulkan bahwa lingkungan begitu berperan dalam proses pemerolehan bahasa.

            Beranjak dari teori Skinner tersebut, tak dapat dipungkiri, lingkungan begitu berperan dalam pemerolehan maupun pembelajaran bahasa. Bukan saja pada anak-anak dalam pemerolehan, orang dewasa pun ketika belajar bahasa begitu membutuhkan lingkungan yang kondusif dalam belajar bahasa. Pada dasarnya, anak-anak lebih mudah menguasai pemerolehan bahasa secara lamiah dan komunikatif dalam pemerolehan B2, sedangkan pembelajar dewasa dapat belajar sangkil  dengan pendekatan kognitif dan akademik (Nurhadi dan Roekhan, 1990). Walaupun demikian, terdapat persamaan di antara keduanya, yaitu lagi-lagi lingkungan berperan penting dalam perkembangan bahasa tersebut.

            Hal ini juga seakan diamini oleh Chaer. Chaer (2012: 66) menyatakan bahwa kefasihan seseorang dalam menggunakan dua buah bahasa sangat bergantung pada adanya kesempatan (dalam hal ini ditafsirkan lingkungan) untuk menggunakan kedua bahasa itu. Jika kesempatannya banyak, maka kefasihannya bertambah baik. Jika kesempatannya berkurang atau sedikit maka kefasihan itu pun akan berkurang.

B.     Jenis-jenis Peranan lingkungan dalam Pemerolehan B2

  1. Peranan Input di Lingkungan Kelas dalam Proses Pemerolehan Bahasa Kedua (PBK)

a)      Pengertian Input di Lingkungan Kelas

            Nurhadi dan Roekhan (1990: 111) menyatakan bawa istilah input diartikan sebagai ‘sesuatu’ yang diperoleh sebagai hasil interaksi. Sedangkan dalam kamus Ofline2.04 (Setiawan: 2009) menyatakan bahwa input berarti ‘tenaga yang dimasukkan’; ‘pemakaian’. Nurhadi dan Roekhan menyimpulkan bahwa input dilingkungan kelas berarti input yang pemerolehannya hanya melalui kegiatan di dalam kelas. Secara aksiomatis, pemerolehan bahasa kedua  dapat berlangsung atau terjadi dengan lancar bila data bahasa kedua sebagai input dan seperangkat mekanisme internal tersedia.

            Tiga pandangan tentang input masing-masing diberikan oleh kaum behavior, kaum nativis, dan kaum interaksionis. Pandangan behavior menganggap pembelajar sebagai ‘suatu mesin penghasil bahasa’, sehingga lingkungan linguistik dipandang sebagai faktor penentu yang sangat penting. Pandangan nativis menganggap pembelajar sebagai pembangkit mekanisme internal. Lain pula halnya dengan  pandangan interaksionis yang menganggap faktor lingkungan linguistik dan faktor mekanisme internal pembelajar secara bersama-sama berperan penting dalam proses pemerolehan bahasa.

b)      Teori empirik Penunjang

            Untuk memahami lebih mendalam tentang input dalam kaitannya dengan PBK, perlu teori yang dapat digunakan sebagai acuan. Teori yang dianggap relevan untuk membahas makalah ini adalah Hipotesis Input dan Teori Wacana. Hipotesis input ialah pembelajar memeroleh bahasa dengan mengerti input yang lebih sukar sedikit dari tingkat kemampuan berbahasa yang telah diperoleh. Menurut teori ini, kegiatan berbicara adalah hasil dari pemerolehan dan kemampuan berbicara tidak bisa diajarkan, tetapi muncul secara otomatis sebagai hasil dari penerimaan input yang bisa dimengeti. Sedangkan teori wacana berpandangan bahwa sebagai partisipan, pembelajar memiliki kemampuan untuk memahami maksud komunikasi dengan pihak lain, serta pembelajar dapat memeroleh bahasa target.

            Mengacu pada pandangan teori wacana, jelaslah bahwa proses PBK menuntut adanya interaksi dalam bahasa sasaran (bahasa kedua yang sedang dipelajarinya) yang mungkin dapat dipahami pesan-pesan yang disampaikan oleh pembicara. Proses interaksi dalam kelas dapat berlangsung antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa, sehingga terciptalah input-respon atau umpan balik antara mereka.

c)      Teacher Talk Sebagai Input

            Teacher Talk (bahasa guru) didefinisikan oleh Ellis (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990: 113) sebagai bentuk/tipe bahasa yang khusus dan dipergunakan oleh guru menyampaikan materi bahasa kedua pada pembelajar di kelas. Ciri Teacher Talk sebagai input yang ditujukan kepada pembelajar antara lain memiliki ciri gramatikal sederhana, penyesuaian leksikal, serta kejelasan ucapan. Selain itu, pembelajar dapat berbahasa kedua karena telah mendapat ‘comperhensible input’ (input yang bisa dimengerti maknanya).

d)     Peranan Input di Lingkungan Kelas Dalam PBK

            Salah satu teknik yang dipergunakan guru untuk menghadirkan input antarpembelajar, yaitu dengan membagi para pembelajar dalam jumlah kecil atau terkenal dengan nama ‘group work’. Group work menurut Huda (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990: 114) ialah suatu teknik yang efektif untuk mengahasilkan input pemerolehan, khususnya dalam lingkungan bahasa asing. Sebenarnya, input yang diperoleh pembelajar di lingkungan kelas hanya dipakai sebagai pengontrol perkembangan B2 yang diperoleh.

      2.    Peranan Lingkungan Formal Dalam PBK

            Lingkungan (Nurhadi dan Roekhan, 1990) secara garis besar dapat diklasifikasikan ke dalam lingkungan formal dan lingkungan nonformal. Lingkungan formal adalah salah satu lingkungan belajar bahasa yang memofuskan pada penguasaan kaidah atau aturan-aturan bahasa secara sadar dalam bahasa target (Dulay dan Ellis dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990: 118). Lingkungan ini dapat terjadi di dalam kelas, maupun di luar kelas. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, ternyata lingkungan formal masih berpengaruh, walau sangat samar.

            Ketika pembelajaran berfokus pada isi, lingkungan formal tidak memengaruhi urutan. Tetapi ketika pembelajar memiliki kesempatan melakukan monitor, urutan terpengaruh. Koreksi, perluasan, dan frekuensi berpengaruh pada peningatan profisiensi bahasa pembelajar, walaupun sangat kecil. Untuk itu, pembelajaran bahasa di dalam kelas selain harus mengenalkan pada fungsi-fungsi dan ragam-ragam yang sesuai dengan fungsinya, serta membawanya pada suasana kegiatan berbahasa yang nyata, juga harus menyadarkan pembelajar akan kaidah-kaidah bahasa. Sebab, hanya dengan penggunaan kaidah bahasa, pemerolehan bahasa pembelajar dapat mencapai tingkat yang optimal.

       3.   Peranan Lingkungan Informal Dalam Pemerolehan Bahasa Kedua

            Lingkungan informal terjadi secara alami. Yang tergolong lingkungan informal adalah bahasa yang dipakai kawan-kawan sebaya, bahasa pengasuh atau orang tua, bahasa yang dipakai anggota kelompok etnis pembelajar, bahasa yang dipakai di media cetak atau elektronika (koran, buku, televisi, atau radio), dan bahasa yang dipakai guru dalam proses belajar-mengajar di kelas bahasa maupun bukan bahasa. Sehubungan dengan itu, ada empat hal dari lingkungan bahasa yang berpengaruh dalam PB2, yaitu: 1) sifat alami bahasa sasaran; 2) cara pembelajar dalam berkomunikasi; 3) persediaan acuan kongkrit; dan 4) model bahasa sasaran. Dalam lingkungan bahasa yang bersifat alami, titik berat komunikasi adalah isi pesan, bukan bentuk linguistiknya.

            Beberapa hal yang dapat ditarik dalam peran lingkungan informal dalam PBK yaitu:

  1. Lingkungan kawan sebaya memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan orang tua dan guru dalam PB2;
  2. Program celup (immersion program) akan lebih berhasil bila menyediakan penutur asli sebagai kawan sebaya pembelajar;
  3. Terdapat kemiripan antara bahasa pengasuh, bahasa guru, dan bahasa penutur asing;
  4. Bahasa guru berperan pada PB2, sedangkan bahasa orang tua atau pengasuh lebih banyak berperan pada PB1;
  5. Bahasa penutur asing secara implisit juga hadir sebagai model pengajaran B2;
  6. Bahasa kawan sebaya, orang tua, guru, dan penutur asing merupakan lingkungan informal yang mampu menjadi data input yang baik dan abstraksinya yang berupa aturan-aturan linguistik dapat dipakai sebagai bahan monitor; dan
  7. Dalam PB2 peranan lingkungan informal perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh selain lingkungan formal.

   III.            PENUTUP

Simpulan dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut:

  • ,Dalam teori Behavioristis, lingkungan berperan penting dalam perkembangan bahasa.
  • Input yang diperoleh pembelajar di lingkungan kelas hanya dipakai sebagai pengontrol perkembangan B2 yang diperoleh.
  • Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, ternyata lingkungan formal masih berpengaruh, walau sangat samar.
  • Yang tergolong lingkungan informal adalah bahasa yang dipakai kawan-kawan sebaya, bahasa pengasuh atau orang tua, bahasa yang dipakai anggota kelompok etnis pembelajar, bahasa yang dipakai di media cetak atau elektronika (koran, buku, televisi, atau radio), dan bahasa yang dipakai guru dalam proses belajar-mengajar di kelas bahasa maupun bukan bahasa.
  • Lingkungan informal memiliki peran yang sangat besar dalam PBK

DAFTAR PUSTAKA

Akhadia, Sabarti dkk. 1997. Teori Belajar Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

Chaer, Abdul. 2012. Lingusitik Umum (Edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer Abdul dan Leoni Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta:            Rineka Cipta.

Kridalaksan, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik (Edisi Keempat). Jakarta: Gramedia          Pustaka Utama

Mahmuda. 2012. Psikolinguistik: Kajian teroritik. Makassar: tanpa penerbit.

Nurhadi & Roekhan (Eds.). 1990. Dimensi-Dimensi dalam Belajar Bahasa Kedua.            Bandung: Sinar Baru Banding.

Setiawan, Ebta. 2009. Kamus 2.04 Ofline (ebsoft.web.id).

——————-. 2010. KBBI ofline (ebsoft.web.id).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s